Beri Aku Mas Kawin Toko Buku


Hahaha

Begitu banyak kisah saya berupaya agar dapat membaca sebuah buku.

Mengapa?? Karena saya bukanlah seseorang yang berasal dari keluarga yang bisa membeli sebuah buku dengan mudah. Semua terjadi bermula pada krisis moneter 1998. Sejak saat itu, saya bersekolah selama 8 tahun tanpa membeli buku pelajaran satu pun. Kami benar-benar tidak mampu lagi bahkan saya telah terbiasa tidak mendapatkan rapor karena menunggak bayaran SPP sekolah. Tapi jangan khawatir saudara-saudara. Meski begitu orang tua saya adalah sumber motivasi terbesar saya. Tidak ada buku bukan berarti tidak bisa belajar. Toh, saya masih bisa membaca.

Berikut ini adalah beberapa kisah yang saya ingat mengenai membaca dan meneruskan pendidikan saya.

SEKOLAH DASAR

Kelas 4 SD, satu tahun setelah krisis moneter melanda Indonesia, Papa tidak pernah membawakan buku bacaan lagi atau koran namun Papaku masih bisa mendapatkan dari pelanggan yang datang. Papaku seorang pemangkas rambut yang banyak mengenal orang yang beruang. Mereka membeli koran jika bosan maka Papa akan meminta untuk dibawa pulang. Ya meski aku masih SD aku sudah sangat update dengan berita dalam dan luar negeri. Dan efeknya? Ujian Ilmu Pengetahuan Sosial-ku sangat sukses karena terbiasa berpikir mengenai pengetahuan tersebut. Bukankah membosankan, kalau membaca hanya untuk mendapat nilai sekolah yang tinggi? Ya, sangat membosankan. Disinilah defence mechanism seorang anak-anak bekerja, fantasi, anak-anak secara naluriah memiliki itu. Maka demi memenuhi hasrat tersebut, saya setiap jam istirahat berlari ke perpustakaan dan membaca segudang cerita petualangan dari Hang Tuah hingga Hercules. Tiap saya keluar perpustakaan wajah saya berseri-seri. Seperti telah berpetualang ke dunia antah-berantah. Beberapa teman kecil saya berhasil saya pengaruhi untuk bermain di perpustakaan. Hingga ramailah perpustakaan sekolahku dan diangkatlah saya menjadi ketua perpustakaan pada saat saya berada di kelas 5. Karena perpustakaan bisa menjadi arena bermain yang menyenangkan.

Kelas 5 SD, saya yang hampir kelas 6 ini tidak mempunyai buku sama sekali. Sehingga Tuhan kasihan maka diturunkanlah banjir di daerah kami yang memang agak kurang bersih tersebut. Penduduk desa kami bergotong royong mengatasi banjir. Dan dengan alasan ingin ikut bantu-bantu tetangga padahal ingin main air, saya membantu salah satu rumah tetangga saya. Disana saya menemukan buku Ilmu Pengetahuan Alam Kelas 5 Sekolah Dasar. Lalu saya jemur buku tersebut  dan saya jaga di tengah terik sinar matahari. Saya meminta izin untuk meminjam selama saya kelas 5. Dan alhamdulillah, tetangga saya baik. Dapatlah saya buku yang begitu indah. Teruntuk Rani tetanggaku, terima kasih.

SEKOLAH MENENGAH PERTAMA

Masih tidak jauh berbeda denga kisah SD saya, saya masih aktif membaca di perpustakaan dan meminjam buku cetak teman saya lalu menyalin inti tersebut ke dalam buku catatan saya. Bila mendadak kepepet mau ujian teman saya pun harus memakainya maka saya membujuk teman saya untuk meminjamkan buku dan menyediakan jasa “Silahkan mencontek jawabannya, nggak masalah kok!”. Saya hampir menerapkan ilmu ini selama 3 tahun di SMP.

SEKOLAH MENENGAH ATAS

Saya lulus di SMA terbaik di provinsi Sumatera Selatan. Semua orang di kampung saya heboh. Lalu untuk memenuhi mungkin-akan-memerlukan-banyak biaya. Ibu yang tidak bisa baca tulis memutuskan untuk bekerja menjadi apa saja yang bisa menghasilkan uang. Alhamdulillah ibu saya masih beriman, jadi uang yang didapat insyaallah halal. Penjual cacing makanan ikan, pembantu, dan cleaning service telah beliau jalani demi kami anak-anaknya yang mulai bersekolah semua. Maka, saya mempunyai uang untuk memfotokopi buku pelajaran di SMA saya dan beberapa ada yang saya beli. Untuk memenuhi kebutuhan buku pelajaran yang kurang maka saya meminjam dari senior saya. Beliau tinggal di sebuah kompleks perusahaan negara yang lumayan elite. Tidak ada angkot dan tidak ada uang untuk naik angkot juga. Lalu saya berjalan kaki menelusuri kawasan elite itu dengan tersasar berkali-kali. Maklum anak kampung. Di saat saya tersasar saya bertemu segerombolan anjing dan mengogong dengan galaknya anjing-anjing tersebut. Salah satu anjing denga ukuran 3/4 pinggang itu mulai mengejar saya. Maka tunggang langgang-lah disertai isakkan tangis ketakutan dan berdoa di sepanjang pelarian tersebut. ” Ya Allah, lunakkan hati mereka”. tanpa disangka, saya terbebas dari anjing-0anjing seram itu di sebuah rumah. Dan seorang ibu melihat ingin menolong dan bertanya, “Memang kamu mau kemana sayang?”. “Ke rumah kak Omaiza, bu'”. Ibu itu tersenyum, ” Ini rumah Omaiza loh”. SElama 3 tahun di SMA kebanyakkan buku yang saya pakai hanyalah punya kak Omai. Saya tidak takut apa pun. Meski sebenarnya teman satu sekolah saya telah terdaftar di pusat bimbingan belajar yang terkenal dan mahal. Sungguh, hanya dengan ada sebuah buku yang bisa dibaca saja saya sudah sangat bahagia dan bersemangat. Saya optimis kalau saya pasti BISA.

Maka dilangsungkanlah SPMB 2006, dan saya dinyatakan lulus di Fakultas Kedoteran Universitas Sriwijaya Program Studi Kedokteran Umum.

Ya.. Cuma muncul ide gila yang terpikir seminggu yang lalu saat ujian di salah satu stase paling ribet di kepaniteraan klinik IlmuKedokteran Umum-ku “Penyakit Dalam”. Ini bukan mengenai ujian tersebut. Hanya salah satu curhat dan membagi memori betapa sulitnya medapatkan sebuah buku yang bernilai “ilmu-able”. Alkisah saya diminta untuk mencari buk”Terapi Insulin” untuk ujian BESOK PAGI (saat itu), yang biasanya dokter penguji tersebut datang sangat pagi dan saya TIDAK PUNYA buku yang akan diujikan.

Maka berpetualang saya selama beberapa jam mengelilingi kota Palembang malam hari di tengah hujan boncengan dengan Papa di tengah hujan yang mula-mula rintik lalu DERAS juga. Saya cemas bukan main. Di sela-sela hujan saya menangis. “Oh Tuhan, terima kasih karena tetap membuat kami melaju mengelilingi Palembang meski hujan hanya untuk sebuah buku”. Ditambah dengan telah menikahnya salah satu teman terbaik saya yang kemarin bercerita betapa ia terharu dengan sikap dan kasih sayang suaminya. Maka aku pun mengkhayal, “Mas nanti kalo nikah mas kawinnya toko buku atau perpustakaan aja yah”. (Ting ><)

Hahaha semoga ya, Ya Allah? Cuma ngayal kok. Tapi kalo emang ntar dikasih malah bagus kok. Hihihihi.

2 thoughts on “Beri Aku Mas Kawin Toko Buku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s