Tiga Bayangan


Mei lalu, setelah jaga malamku di stase neurologi yang 60 jam non stop di rumah sakit aku pulang tanpa rasa lelah sedikit pun. Entah darimana daya tahan ini?! Di rumah mamaku tersenyum bilang, “Tuh buat kamu..”. Wooow, GREAT!!! Ternyata ada banyak hadiah yang menungguku di rumah. Hehe.. Ada beberapa buku bacaan, souvenir khas Jakarta, baju buat kondangan, dan note kecil.

Ternyata eh ternyata itu hadiah dari ibu dan adik perempuanku. Adikku beberapa waktu yang lalu menjadi duta untuk Sampoerna Academy di Jakarta. Yang membuatku terharu ialah ia memberiku hadiah meski aku tidak berulangtahun dengan gaji pertamanya. Hahaha, rasanya bahagia sekali🙂.

Dulu ketika mereka (adik perempuan dan laki-lakiku) kecil, belum sekolah, buta huruf, hahaha.. Kami mempunyai sebuah kebiasaan ketika lampu padam, yaitu berdongeng. Aku sebagai orang yang udah bisa baca terlebih dahulu bertugas memdongengkan buku-buku yang telah aku baca di perpustakaan. Di bawah temaram lampu teplok, yah terkadang juga lilin, aku mendongeng dan menirukan suara-suara dalam tokoh tersebut. Malam menjadi begitu ceria. Hanya bayangan kami bertiga yang tertera di dinding rumah kami.

Kembali lagi dengan buku yang diberi oleh adikku. TIGA BAYANGAN (Three Shadows) karya Cyrill Pedrosa.

Berapa harga yg rela kaubayar utk menyelamatkan anakmu? Mula-mula semua terasa indah. Kehidupan berlangsung manis & sederhana di rumah keluarga Joachim di lembah yg diapit perbukitan. Namun kemudian segala berubah. Tiga bayangan mendatangi mengikuti ke mana pun mereka pergi. Mereka hendak mengambil si kecil Joachim. Kisah yg mengharukan & menegangkan ini adl fabel tentang kasih sayang orangtua tentang merelakan & menghargai kehidupan. Tiga Bayangan – Three Shadows.

Resensi inilah yang menyebabkan adikku membeli buku dongeng ini dibeli oleh adikku. Buku ini mengingatkan kami mengenai orang tua kami yang telah banyak menantang kematian hanya untuk kehidupan kami. Sayangnya buku ini ada beberapa gambar yang kurang tepat untuk disajikan kepada anak-anak mengingat Cyril Pedrosa sendiri berasal dari barat. Tapi inti ceritanya sangat menarik. Akhirnya sang anak rela mengorbankan dirinya sendiri karena tak rela melihat orang tuanya yang berjuang begitu mati-matian.

Hal yang sangat jarang kita lakukan sehari-hari bukan? Tternyata buku anak-anak pun bisa mengingatkan kita cara menyayangi orang tua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s