Perpustakaan Pribadi


Salah satu hal yang tidak dapat kedua orang tua saya berikan meskipun mereka sangat ingin adalah membelikan kami buku. Buku merupakan barang mewah untuk kami bertiga. Terlebih lagi setelah tahun 1998, papa tidak bisa berkerja dalam jangka waktu yang tidak bisa ditentukan, kami bahkan hanya bisa makan nasi ditaburi garam dan berbagi dalam porsi yang kecil. Sungguh ini bukan mengenai keluhan kesulitan masa kecil kami. Kami tetap tertawa makan bertiga dalam satu piring. Pada waktu itu baru saya sendiri yang bersekolah karena adik-adik saya masih balita. Saya sering tidak mendapatkan raport karena tidak bisa membayar SPP walaupun nilai saya baik. Saya pulang ke rumah dengan menangis di sepanjang jalan. Hal ini terjadi berulang kali hingga saya kuliah. Begitu juga dengan adik-adik saya. Ya, papa kami adalah seorang pemangkas rambut. Mamak saya berkerja serabutan mulai dari asisten rumah tangga, berjualan makanan ikan, lalu menjadi office clerk pernah ibu saya kerjakan. Maka mempunyai sebuah buku merupakan barang mewah di keluarga kami.

Sungguh tempat yang paling kaya adalah perpustakaan. Teman yang paling kaya menurut kami adalah teman yang mempunyai banyak buku. Dan koran bekas yang tidak lagi dibaca dari toko papa saya berkerja adalah sumber bacaan kami. Papa mewajibkan kami mendengarkan berita dunia di radio BBC London dan menonton “Dunia dalam Berita” setiap malam di TVRI.

Sekolah tanpa buku pelajaran bertahun-tahun kalau beruntung kami sering mendapatkan pinjaman buku dari senior tahun sebelumnya, menggunakan buku tulis yang masih bersisa dari tahun yang lalu untuk tahun pelajaran baru, satu pasang sepatu untuk SD selama 6 tahun, satu pasang baju sekolah untuk tiga tahun sekali, tas sekolah sesuai lama masa SD-SMP-SMA. Maka tak mengherankan bukan bila bagi kami mempunyai dan mampu membeli satu buku menggunakan uang sendiri seperti memiliki barang mewah. Karena begitu mewahnya arti sebuah buku bagi kami dan saya pribadi sehingga saat kami bertiga diberikan kemampuan untuk menyisihkan sebagian uang kami sekarang untuk membeli buku. Hampir selama satu tahun terakhir kami membeli dan mengumpulkan buku terutama buku gratis dari seminar, pernikahan, diskon, dan buku yang menarik dan berharga kami beli. Dari novel klasik indonesia hingga mancanegara, biografi, dan kisah sastra untuk anak-anak kami kumpulkan.

Inilah salah satu barang mewah menurut saya. Kalau tidak mewah mengapa bangsa Romawi bersusah payah menyerang perpustakaan di Mesir lalu memusnahkan buku-buku dengan membuangnya ke sungai Nil hingga airnya berwarna hitam? Karena Romawi menginginkan klaim sebagai bangsa dengan peradaban dan pengetahuan tertinggi di dunia.

Mempunyai sebuah buku seolah menemukan dan memiliki sebuah harta dari Qarun😀. Hihihi maaf agak lebay.. Jadi, memiliki perpustakaan pribadi merupakan salah satu proyek hidup saya. Well, it was inspired by my sister and my brother. Hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s